Ketika Tunanetra Nobar Di Istana Negara

Tunanetra peserta nobar berfoto di halaman Istana Negara
Sumber gambar: koleksi pribadi

“Ega, mau ikut nobar ga?” Suara yang sangat akrab di telinga gue terdengar di ujung telepon. Itu Santi, salah satu sahabat tunanetra gue. Agak heran gue menerima telepon Santi kali itu. Gue dan Santi memang cukup sering berkomunikasi via telepon. Tapi kabar yang dibawa Santi kali itu terdengar tidak biasa buat gue.

Continue reading Ketika Tunanetra Nobar Di Istana Negara

Seru, Rafting Bareng Tunanetra

Ega bersama mas Adi, dua relawan dan instruktur di atas perahu yang tengah memasuki jeram
Sumber gambar: koleksi pribadi

“Selamat pagi semuanya,” Sapa mbak Tarini, seorang relawan yang duduk di bangku samping kemudi. “Gimana? Udah pada siap rafting?”

“Siaaaapp!!!” Bak paduan suara, jawaban kompak itu menggema di dalam mini bus yang kami tumpangi.

Hari itu, sabtu cerah di pertengahan bulan September 2014, gue memulai perjalanan pertama gue sejak menjadi tunanetra. Ya, rafting alias arung jeram. Siapa sangka, tunanetra ternyata juga bisa melakukan olahraga alam yang ekstrim itu.

Continue reading Seru, Rafting Bareng Tunanetra

Temukan Kesempatan, Gue Kembali Berkarya

Ega duduk di meja kerja bersama gadget-nya
Sumber gambar: koleksi pribadi


“Dengan begitu, gue resmi menyandang status sebagai seorang pekerja. Suatu hal yang dulu sempat gue pikir tidak mungkin terjadi pada tunanetra seperti gue.”

Ketika mendengar kata “tunanetra”, maka hal berikutnya yang akan terlintas di benak kebanyakan orang adalah “tukang pijat”. Ya, begitulah stigma yang masih kuat melekat pada sebagian masyarakat kita. Bahkan, pikiran seperti itupun sempat singgah di kepala gue saat gue baru saja menjadi tunanetra.

Continue reading Temukan Kesempatan, Gue Kembali Berkarya

Cahaya Pertama di Kehidupan Baru

Laptop dengan layar menyala
Sumber gambar: http://pngimg.com/img/electronics/laptop


“Alangkah terkejutnya gue setelah berbincang dengan mereka. Ternyata kehidupan mereka jauh lebih menyenangkan dari yang pernah gue bayangkan.”

 

Berat. Begitulah rasanya hidup gue ketika gue kehilangan penglihatan. Apa yang ada di pikiran gue saat itu mungkin sama dengan apa yang ada dalam pikiran orang pada umumnya—dengan menjadi tunanetra maka gue sudah kehilangan kebahagiaan dan masa depan. Tapi ternyata semua itu tidak sepenuhnya benar.

Continue reading Cahaya Pertama di Kehidupan Baru

Gadget Pertama, Jadikan Warna Baru Hidup Gue

iPhone 6s di atas meja
Sumber gambar: https://www.proiphoneunlock.co.uk/how-unlock-iphone-6s-network/

“Inilah perkenalan pertama gue dengan gadget setelah 3 tahun menjadi tunanetra. Setelah iPhone dalam genggaman, gue pun mulai mencoba untuk mengoperasikannya.”

Perkembangan teknologi saat ini memang sudah sangat pesat. Banyak hal yang dahulu tampak tidak mungkin, sekarang menjadi sangat mungkin berkat adanya teknologi. Meskipun begitu, tidak pernah terbayang di pikiran gue bahwa perkembangan teknologi tersebut juga mempengaruhi kemajuan hidup para tunanetra. Ya, kebanyakan orang tidak pernah berpikir bahwa saat ini tunanetra bisa mengoperasikan berbagai macam gadget, mulai dari smartphone hingga komputer.

Continue reading Gadget Pertama, Jadikan Warna Baru Hidup Gue

Tatap Masa Depan, Gue Bangkit Bersama Harapan

sun rise
Sumber gambar: http://www.upliftingcuracao.com/

“Lebih baik gue menyiapkan masa depan yang indah, daripada terus menangisi masa lalu yang tidak akan pernah bisa kembali.”

 

Gelap, saat itu semua menjadi gelap. Bahkan terangnya cahaya sang mentari pun tidak lagi bisa gue nikmati. Tidak ada lagi warna warni dunia dalam hidup gue. Semua brubah, berganti menjadi satu warna, yaitu hitam.

Tahun 2010, gue belum genap berumur 25 tahun. Gue kehilangan salah satu panca indera yang sangat vital yaitu penglihatan gue akibat pecahnya pembuluh darah mata. Hal yang sama sekali tidak pernah gue bayangkan seumur hidup gue. Continue reading Tatap Masa Depan, Gue Bangkit Bersama Harapan