Tatap Masa Depan, Gue Bangkit Bersama Harapan

sun rise
Sumber gambar: http://www.upliftingcuracao.com/

“Lebih baik gue menyiapkan masa depan yang indah, daripada terus menangisi masa lalu yang tidak akan pernah bisa kembali.”

 

Gelap, saat itu semua menjadi gelap. Bahkan terangnya cahaya sang mentari pun tidak lagi bisa gue nikmati. Tidak ada lagi warna warni dunia dalam hidup gue. Semua brubah, berganti menjadi satu warna, yaitu hitam.

Tahun 2010, gue belum genap berumur 25 tahun. Gue kehilangan salah satu panca indera yang sangat vital yaitu penglihatan gue akibat pecahnya pembuluh darah mata. Hal yang sama sekali tidak pernah gue bayangkan seumur hidup gue.

Sebelumnya, kehidupan gue berjalan normal sebagaimana anak muda pada umumnya. Seakan tak ada beban, gue nikmati hidup gue dengan melakukan semua hal yang gue suka. Ikut pertandingan basket, main bilyar, atau nongkrong di kafe adalah hal yang mengisi keseharian gue. Ditambah lagi, gue punya banyak sahabat yang seru dan menyenangkan– membuat hidup gue terasa nyaris sempurna. Namun siapa sangka, semua kebahagiaan itu seakan lenyap bagai asap ketika gue mulai merasakan pengelihatan gue kian hari kian menurun.

Gue sudah menjalani beberapa kali operasi mata. Sempat juga berpindah ke beberapa rumah sakit khusus mata yang cukup besar di Jakarta. Tapi semua itu tidak bisa mencegah hilangnya penglihatan gue. Parahnya lagi, sampai detik ini gue tidak tahu pasti apa penyebab dari pecahnya pembuluh darah mata gue .

Sebagai manusia biasa, gue benar-benar sangat terpukul dengan kejadian itu. Bayangkan, selama hampir 25 tahun gue terbiasa menikmati indahnya warna warni dunia, tiba-tiba gue harus kehilangan semua itu. Ditambah lagi gue sampai harus mengakhiri bahtera rumah tangga gue yang baru seumur jagung. Saat itu, gue merasa sudah tidak sanggup untuk membangun rumah tangga dengan kondisi gue yang tidak lagi bisa melihat. Lengkap deh cobaan gue saat itu.

Selama hampir empat tahun gue mengurung diri, menjauh dari pergaulan gue sebelumnya, menghilang bagai ditelan bumi. Setiap hari hanya suasana kamar yang menemani, sambil sesekali mendengarkan berita melalui siaran televisi.

Untungnya, gue punya keluarga yang amat sangat mendukung gue. Terutama nyokap dan kakak-kakak gue, karena  bokap gue sudah meninggal tidak lama setelah gue kehilangan penglihatan. Sebagai bungsu dari tujuh bersaudara, gue sangat bersyukur memiliki mereka. Mereka itulah yang tanpa lelah mendampingi gue menjalani berbagai macam pengobatan, mulai dari pengobatan medis hingga pengobatan non medis. Tidak terhitung harta dan tenaga yang sudah mereka korbankan buat gue, walaupun memang belum ada yang berhasil mengembalikan penglihatan gue.

Rasa putus asa pun berulang kali singgah dalam benak gue. Berbagai macam bayangan masa depan yang suram selalu saja menghantui pikiran gue. Setiap rasa itu datang, gue berusaha melawan dengan mencoba memikirkan hal lain yang mungkin bisa membuat gue lupa akan rasa putus asa. Namun memang bukan hal yang mudah. Semakin gue mencoba untuk melawan, semakin banyak pikiran buruk yang datang.

Lelah melawan keadaan, akhirnya gue pun mencoba berdamai. Gue mulai berpikir untuk ikhlas dan pasrah sepenuhnya pada Tuhan. Dalam sujud gue memohon, jika memang kondisi ini adalah yang terbaik buat gue, semoga Tuhan terus memberikan gue kekuatan untuk menjalani hidup gue yang baru ini.

Terbukti, Tuhan pun akhirnya menjawab doa gue. Di awal tahun 2014 berkat informasi yang gue dapatkan melalui dunia maya, akhirnya gue menemukan sebuah yayasan di daerah Jakarta Selatan. Di yayasan tersebut, Tunanetra bisa mengikuti berbagai macam kegiatan pelatihan keterampilan yang menunjang kemandirian. Mulai dari belajar membaca huruf Braille, klub bahasa inggris dan bahasa jerman, sampai kursus komputer bicara dengan perangkat lunak pembaca layar. Di sana pula gue mengenal banyak teman Tunanetra. Gue tidak menyangka, bahwa ternyata mereka bisa tertawa, bercanda, dan tampak begitu bahagia meski dengan kondisi mereka sebagai Tunanetra. Banyak hal yang gue pelajari di tempat itu. Boleh dibilang, kedatangan gue di yayasan itu adalah cahaya pertama dalam kehidupan baru gue sebagai Tunanetra.

Menyadari bahwa menjadi Tunanetra bukanlah akhir dari segalanya, semangat gue pun tumbuh kembali. Pelan tapi pasti, gue semakin berdamai dengan keadaan. Gue mulai merubah pola pikir gue, lebih baik gue menyiapkan masa depan yang indah, daripada terus menangisi masa lalu yang tidak akan pernah bisa kembali.

Seiring berjalannya waktu, gue pun mulai menemukan kepercayaan diri gue kembali. Gue mulai mempelajari berbagai hal baru yang bisa membantu dan mendukung kemajuan gue sebagai seorang Tunanetra. Hingga akhirnya gue mampu mengoperasikan beberapa gadget seperti smartphone dan komputer. Selain itu, gue pun mulai kembali bersosialisasi dan membangun networking yang selama 4 tahun gue tinggalkan.

Berbekal semua itu, akhirnya gue bisa kembali berkarya. Saat ini gue dipercaya untuk bergabung dengan tim sosial media dari salah satu pimpinan lembaga tinggi negara. Yah, walaupun bertolak belakang dengan pendidikan gue yang merupakan Sarjana Ekonomi jurusan Akuntansi, tapi menurut gue ini pekerjaan yang menyenangkan sekaligus menantang.

Sekarang kondisi gue sudah jauh lebih baik. Buat gue, menjadi Tunanetra tidak seburuk apa yang gue bayangkan sebelumnya. Gue juga masih bisa melakukan apa yang orang lain lakukan, hanya caranya saja yang berbeda.

Advertisements

12 thoughts on “Tatap Masa Depan, Gue Bangkit Bersama Harapan

  1. Salam kenal Ega… Membaca tulisan ini membuat saya merinding. Bahwa anda pernah merasa terpuruk, itulah manusiawi. Tetapi kemudian anda bangkit. Tulisan anda ini sungguh menginspirasi saya. Bahwa disaat orang-orang yang sudah banyak kehilangan “cahaya”, orang terpuruk dan terperangkap dalam “gelap”. Tapi “kegelapan” yang anda rasa sungguh nyata.

    Doa saya adalah semoga anda selalu diberikan kekuatan hati untuk menginspirasi dunia. Salah satunya dengan kekuatan tulisan anda.

    Sebuah anugerah membaca tulisan ini. Tetap semangat.

    Liked by 1 person

    1. Terima kasih udah mampir ke blog saya. Mohon dukungan dan petunjuk dari para senior, karena saya baru mulai belajar ngeblog. Semoga apa yg saya tulis bisa bermanfaat. Pantau terus ya blog Cerita Ega 🙂

      Like

  2. Saluuuut! Wah. Makin kece ya lo Kak! Terharu baca tulisan lo, jadi inget obrolan2 kita dulu. Semoga lo belum lupa gue ya Kak, gue Putri, si anak kuliahan yang sangat berterimakasih untuk bantuan lo dan tante pas jaman nyusun skripsi dulu. Sukses terus ya Kak! See you when I see you! 🙂

    Liked by 1 person

      1. Yoi hahaha alhamdulillah ya lo masih inget. Kabar baik Kak, gue lagi ngajar nih di Papua, udah 8 bulan. Kalo tar selesai tugas boleh lah ya ketemu2. Anyway, salam buat nyokap ya Kak!

        Liked by 1 person

  3. Salam kenal mas Ega.
    Baru pertama BW ke sini dan membaca ceritamu menyadarkan saya bahwa banyak hal yang selama ini take it for granted, karena saking biasanya. At the same time, teringat kembali dengan satu kalimat yang saya baca di salah satu bukunya Gede Prama yaitu “berteman dengan ketidaksempurnaa”. Buat saya, nampaknya mas Ega sudah berada dalam kondisi itu.

    Liked by 1 person

    1. Salam kenal mbak Ratna, terima kasih udah meluangkan waktu untuk membaca cerita saya. Betul mbak, setelah sekian tahun akhirnya saya memilih untuk berteman dengan ketidaksempurnaan. Dan ternyata itulah yg akhirnya membuat saya merasa semuanya menjadi lebih baik. 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s