Cahaya Pertama di Kehidupan Baru

Laptop dengan layar menyala
Sumber gambar: http://pngimg.com/img/electronics/laptop


“Alangkah terkejutnya gue setelah berbincang dengan mereka. Ternyata kehidupan mereka jauh lebih menyenangkan dari yang pernah gue bayangkan.”

 

Berat. Begitulah rasanya hidup gue ketika gue kehilangan penglihatan. Apa yang ada di pikiran gue saat itu mungkin sama dengan apa yang ada dalam pikiran orang pada umumnya—dengan menjadi tunanetra maka gue sudah kehilangan kebahagiaan dan masa depan. Tapi ternyata semua itu tidak sepenuhnya benar.

Dulu, tidak pernah terbayang di benak gue bahwa ternyata seorang tunanetra juga bisa melakukan apa yang orang lain lakukan. Mulai dari memainkan berbagai jenis alat musik, hingga menggunakan gadget seperti smartphone dan komputer. Bukan cuma itu, ternyata tidak sedikit tunanetra berprestasi yang mampu menempuh pendidikan tinggi dan menguasai berbagai macam bahasa.

Perubahan pandangan gue tentang kehidupan tunanetra berawal dari pencarian informasi yang gue lakukan di dunia maya. Melalui smartphone kesayangan gue, akhirnya gue menemukan website dari sebuah yayasan di bilangan Jakarta Selatan yang menaungi para tunanetra. Saat itu gue sedang mencari informasi mengenai pelatihan komputer untuk tunanetra. Maka kata itulah yang coba gue masukan di mesin pencari. Hasilnya, nama yayasan tersebut seketika muncul di halaman pertama pencarian.

Didorong rasa penasaran sambil harap-harap cemas, akhirnya gue klik judul tersebut. Benar saja, ternyata semua informasi yang gue cari terpampang jelas di halaman situsnya. Tidak hanya pelatihan komputer, yayasan tersebut juga mengadakan berbagai program lainnya. Mulai dari bimbingan belajar, hingga program bahasa dan kesenian. Setelah puas membaca, gue pun langsung menuju laman kontak untuk mencatat nomor telepon yang bisa dihubungi. Tidak ingin lebih lama menahan rasa penasaran, gue pun langsung menghubungi nomor tersebut.

“Halo,” suara ramah seorang wanita menyapa gue di ujung telepon.

“Selamat siang, nama saya Ega. Saya mau tanya tentang kursus komputer bicara untuk tunanetra.” Begitulah gue memulai percakapan. Awalnya gue berniat untuk meminta kursus privat di rumah gue. Selain memang saat itu gue belum bisa bepergian sendiri, gue juga belum mempunyai kepercayaan diri untuk bertemu banyak orang. Yah, gue memang sempat kehilangan kepercayaan diri gue selama 4 tahun karena menjadi tunanetra.

Ternyata yayasan tersebut tidak bisa menyediakan layanan privat seperti yang gue minta. Wanita ramah itu membujuk gue agar mau datang dan menjalani pelatihan di yayasan. Dengan begitu, gue bisa bersosialisasi dengan teman-teman tunanetra lainnya. Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya gue memberanikan diri untuk mendatangi yayasan tersebut dengan diantar nyokap.

Gue sampai di yayasan itu sekitar pukul 8.30, masih terlalu pagi untuk memulai kegiatan. Alhasil, gue pun menunggu dengan nyokap gue sambil berbincang dengan satu-dua orang tunanetra yang sudah lebih dulu tiba. Semakin siang, semakin banyak tunanetra yang datang. Gue pun berkenalan dengan mereka.

Alangkah terkejutnya gue setelah berbincang dengan mereka. Ternyata kehidupan mereka jauh lebih menyenangkan dari yang pernah gue bayangkan. Beberapa dari mereka sedang menempuh pendidikan di universitas ternama, sementara sebagian lainnya sudah bekerja di perusahaan internasional. Bukan cuma itu, bahkan tidak sedikit yang sudah berkeluarga. Gue pun tersadar, menjadi tunanetra bukanlah akhir dari segalanya.

“Ega, bulan depan mau ikut kita jalan-jalan ga?” Tanya seorang instruktur menyadarkan gue dari lamunan.

“Hah, jalan-jalan kemana mas?” Gue balik bertanya penuh kebingungan.

“Singapore,” jawab instruktur tersebut dengan santai. Gue pun hanya bisa terbengong. Ternyata mereka memang sering mengadakan berbagai kegiatan. Dengan bantuan sekelompok relawan pendamping, kegiatan seperti rafting hingga mendaki gunung pun mereka jalani.

Mendengar mereka bercanda dan tertawa lepas, timbul semangat baru dalam diri gue. Gue ingin menikmati hidup seperti mereka. Gue pun memutuskan untuk bergabung di yayasan tersebut dan mengikuti beberapa program pelatihan. Sesuai tujuan gue, gue mengikuti pelatihan komputer bicara dengan menggunakan piranti lunak pembaca layar, ditambah kelas bahasa jerman dan pelatihan mengenal huruf Braille.

Setelah kurang lebih satu tahun gue belajar disana, akhirnya gue bisa kembali menggunakan komputer serta smartphone berbasis iOS dan Android. Bahkan, kemampuan gue menulis blog ini pun adalah hasil dari materi blogging dan html dasar yang gue pelajari disana. Bukan cuma keterampilan, gue juga menemukan beberapa orang yang akhirnya menjadi sahabat baru gue sampai saat ini. Gue merasa beruntung bisa datang kesana dan mengenal mereka.

Meski tidak lagi seaktif dulu, kadang gue masih berkunjung ke yayasan itu. Bagaimanapun, di yayasan itulah gue mendapat banyak pengalaman berharga yang membuat gue akhirnya menemukan kembali kepercayaan diri gue yang sempat hilang. Boleh dibilang, kedatangan gue ke yayasan itu menjadi cahaya pertama di kehidupan baru gue sebagai tunanetra.

Advertisements

2 thoughts on “Cahaya Pertama di Kehidupan Baru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s