Temukan Kesempatan, Gue Kembali Berkarya

Ega duduk di meja kerja bersama gadget-nya
Sumber gambar: koleksi pribadi


“Dengan begitu, gue resmi menyandang status sebagai seorang pekerja. Suatu hal yang dulu sempat gue pikir tidak mungkin terjadi pada tunanetra seperti gue.”


Ketika mendengar kata “tunanetra”, maka hal berikutnya yang akan terlintas di benak kebanyakan orang adalah “tukang pijat”. Ya, begitulah stigma yang masih kuat melekat pada sebagian masyarakat kita. Bahkan, pikiran seperti itupun sempat singgah di kepala gue saat gue baru saja menjadi tunanetra.

Lulus kuliah di tahun 2007, gue bekerja sebagai Accounting Consultants. Namun baru dua tahun bekerja, penurunan daya penglihatan yang mulai gue alami memaksa gue untuk mengakhiri karir. Mencari jalan lain untuk memperoleh penghasilan, gue pun beralih ke bisnis jual beli mobil yang memang menjadi hobi gue. Sampai akhirnya gue harus benar-benar berhenti akibat kehilangan penglihatan di tahun 2010.

Sekarang, dunia gue jauh berbeda. Terlintas di kepala gue, apakah mungkin gue bisa bekerja seperti dulu lagi? Tidak terbayang jenis pekerjaan apa yang akan gue lakukan nantinya. Gue pikir, dengan menjadi tunanetra maka berakhirlah karir gue.

Membayangkan semua itu cukup membuat gue stres. Bagaimana tidak, buat gue, salah satu tanggung jawab gue sebagai laki-laki itu ya bekerja untuk mencari nafkah. Tapi dengan kondisi gue sebagai tunanetra, bagaimana gue bisa melakukannya?

Cukup lama gue dihantui kekhawatiran tentang masa depan karier gue. Sampai akhirnya gue memberanikan diri untuk mencari tahu jenis pekerjaan apa yang bisa gue lakukan. Gue pun mulai berselancar di dunia maya. Hasilnya, gue menemukan beberapa artikel menarik yang menceritakan kisah sukses tunanetra.

Gue takjub membaca artikel-artikel itu. Bukan hanya mampu meraih gelar pendidikan tertinggi, ternyata cukup banyak juga tunanetra yang sukses membangun karier. Ada yang menjadi pengajar atau motivator, bahkan mampu mengelola bisnisnya secara mandiri. Selain itu, ada pula beberapa yang ternyata mampu bekerja di perusahaan internasional. Semuanya benar-benar di luar dugaan gue.

Hmm…pikiran gue pun mulai terbuka. Kalau mereka bisa, kenapa gue tidak? Gue pun mencoba memotivasi diri sendiri. Gue ingin seperti mereka. Dengan semangat 45, gue mulai serius memikirkan pekerjaan apa yang akan gue lakukan.

Untuk bisa bekerja seperti tunanetra lainnya, memang tidak mudah. Banyak kendala yang gue alami, mulai dari keterbatasan skill sampai kesulitan dalam mobilisasi secara mandiri. Selain itu, belum banyak perusahaan yang berani mempekerjakan tunanetra.

Menyadari hal itu, gue pun mempersiapkan diri dengan mulai meningkatkan kemampuan gue. Jadi ketika kesempatan itu datang, gue sudah siap. Karena bagi gue, kesuksesan adalah ketika kesiapan bertemu dengan kesempatan.

Alhasil, gue mengisi hari-hari gue dengan berbagai pelatihan, mulai dari mengenal huruf Braille, hingga belajar komputer yang dilengkapi perangkat lunak pembaca layar di suatu yayasan khusus tunanetra. Selain itu, gue juga mulai belajar untuk bepergian dan beraktivitas secara mandiri. Tidak lupa, gue juga selalu berdoa agar diberikan kesempatan untuk bisa bekerja kembali.

Akhirnya kesabaran pun mulai berbuah hasil. Di tengah semua usaha gue menyiapkan diri, gue mendapat tawaran untuk bergabung di sebuah tim social media yang mengelola akun-akun dari salah satu pimpinan lembaga tinggi negara.

Tawaran itu datang dari salah seorang anggota keluarga gue yang mengetahui bahwa gue sudah mampu mengakses internet. Gue pun akhirnya dipertemukan dengan tim tersebut. Seperti dugaan gue, mereka kaget begitu mengetahui bahwa tunanetra juga bisa mengoperasikan bermacam-macam gadget seperti smartphone dan komputer. Wajar saja, karena memang masih banyak orang yang belum mengetahui bahwa saat ini tunanetra juga mampu mengakses internet secara mandiri.

Awalnya gue sempat ragu, karena tawaran ini benar-benar bertolak belakang dengan pendidikan gue yang merupakan Sarjana Ekonomi. Di sisi lain, gue juga tidak mau melewatkan kesempatan ini begitu saja. Akhirnya gue terima juga tawaran tersebut. Jika memang nantinya gue gagal, setidaknya gue sudah berani mencoba. Toh, dunia social media bukan hal baru buat gue. Sebelum menjadi tunanetra, gue cukup aktif di beberapa platform social media. Setelah menjadi tunanetra pun, gue sudah cukup mampu berselancar di dunia maya berkat bantuan smartphone dan komputer yang dilengkapi perangkat lunak pembaca layar. Jadi, rasanya tidak ada lagi alasan bagi gue untuk menolak tawaran tersebut.

Setelah melewati masa percobaan beberapa bulan, atasan dan rekan-rekan gue puas dengan apa yang gue kerjakan. Gue pun resmi bergabung di perusahaan tempat tim itu bernaung sejak tahun 2014 hingga sekarang. Dengan begitu, gue resmi menyandang status sebagai seorang pekerja. Suatu hal yang dulu sempat gue pikir tidak mungkin terjadi pada tunanetra seperti gue.

Gue sangat salut dan berterima kasih kepada tim tersebut karena sudah bersedia memberikan kesempatan kepada seorang tunanetra. Gue berharap apa yang gue tulis ini bisa membantu mengubah paradigma masyarakat tentang tunanetra. Semoga ke depannya semakin banyak perusahaan yang berani membuka kesempatan kerja untuk tunanetra dan disabilitas lainnya. Bagaimanapun, apa yang sebenarnya kami butuhkan bukanlah belas kasihan, melainkan kesempatan dan kepercayaan.

Advertisements

6 thoughts on “Temukan Kesempatan, Gue Kembali Berkarya

  1. Apa yang Mas Ega ceritakan disini menjadi contoh teladan dan pemberi semangat kepada mereka yang (maaf) memiliki keterbatasan, Tulisan Mas Ega disini juga menjadi pembuka paradigma terhadap memandang kapabilitas tunanetra. Tetap lanjutkan Mas Ega, tetap semangat, saya selalu mendukung.

    Liked by 1 person

    1. Terima kasih banyak mas. Saya memang butuh dukungan dan bantuan teman-teman blogger nih untuk merubah paradigma masyarakat akan saudara-saudara kita penyandang disabilitas. Karena misi itu ga akan bisa saya lakukan kalo sendirian hehe. Semoga ga bosan ya mas membaca dan menyebarkan apa yang saya tulis ini. 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s