Seru, Rafting Bareng Tunanetra

Ega bersama mas Adi, dua relawan dan instruktur di atas perahu yang tengah memasuki jeram
Sumber gambar: koleksi pribadi

“Selamat pagi semuanya,” Sapa mbak Tarini, seorang relawan yang duduk di bangku samping kemudi. “Gimana? Udah pada siap rafting?”

“Siaaaapp!!!” Bak paduan suara, jawaban kompak itu menggema di dalam mini bus yang kami tumpangi.

Hari itu, sabtu cerah di pertengahan bulan September 2014, gue memulai perjalanan pertama gue sejak menjadi tunanetra. Ya, rafting alias arung jeram. Siapa sangka, tunanetra ternyata juga bisa melakukan olahraga alam yang ekstrim itu.

“Ega, ikut rafting yuk,” ajak Mas Adi beberapa minggu sebelumnya. Mas Adi adalah seorang konselor yang gue kenal di yayasan tunanetra tempat gue belajar.

“Rafting? Kita, Mas? Memang bisa?” sahut gue bertubi-tubi dengan nada keheranan.

Sejak gue mulai mengenal banyak teman tunanetra, memang ada banyak hal baru yang gue temui. Hal-hal yang dulu gue pikir tidak mungkin dilakukan oleh seorang tunanetra, ternyata justru menjadi sesuatu yang biasa mereka lakukan. Begitupun dengan ajakan Mas Adi kali ini. Sejak menjadi tunanetra, gue belum pernah melakukan perjalanan ke manapun—kecuali ke yayasan tempat gue belajar komputer. Itu sebabnya, ajakan rafting dari Mas Adi lagi-lagi menjadi sesuatu yang “aneh” bagi gue yang belum lama mengenal dunia tunanetra.

Mas Adi terkekeh geli menikmati keheranan gue. Lantas, barulah ia menjelaskan bagaimana tunanetra bisa melakukan aktivitas rafting. Ternyata, kami tidak melakukannya sendiri, melainkan didampingi oleh para relawan.

“Tenang aja, aman kok. Kalau perlu nanti saya yang ngomong ke keluarga kamu untuk minta izin,” ujar Mas Adi, meyakinkan. Maklum, keluarga seringkali merasa khawatir jika seorang tunanetra bepergian sendiri.

“Ok, siapa takut? Untuk izin mah gampang, nanti biar saya yang ngomong sendiri,” jawab gue dengan gaya seolah sedang menerima tantangan. Sebenarnya gue memang sudah pernah mencoba rafting, tapi itu sebelum gue menjadi tunanetra.

Maka, berangkatlah gue menuju sebuah arena rafting di kawasan Pangalengan, Bandung. Peserta Rafting terdiri dari 15 orang. Selain gue dan Mas Adi, ada dua orang tunanetra lain yang gue kenal. Ada Mas Suryo yang merupakan instruktur komputer gue. Dan ada Abrar, teman seperjuangan gue di yayasan tempat gue menimba ilmu.

Dalam perjalanan ini, kami ditemani para relawan pendamping dari Fency. Fency adalah sebuah komunitas relawan pendamping tunanetra yang sudah cukup sering mendampingi tunanetra dalam berbagai kegiatan. Setelah mendengarkan perkenalan dan penjelasan dari mbak Tarini, suasana pun mulai ramai dengan canda tawa para tunanetra yang berbaur dengan para pendamping. Selama perjalanan, kami saling berbagi bekal makanan yang kami bawa masing-masing.

Kami tiba di lokasi sebelum waktu makan siang. Udara disana cukup dingin dan sejuk, jauh berbeda dengan udara penuh polusi yang selama ini gue hirup di Jakarta. Turun dari mobil, kami langsung berkumpul untuk mendengarkan pengarahan dari instruktur rafting.

Selesai mendengarkan pengarahan, kami langsung berganti pakaian dan bersiap untuk memacu adrenalin. Namun sebelum rafting, kami melakukan kegiatan outbound yang tidak kalah extreme bernama flying fox. Seperti namanya, kegiatan ini memberikan sensasi seperti sedang terbang.

Pertama, di pinggang gue dipasangkan rangkaian tali pengikat. Setelah tali terpasang sempurna, para relawan membantu gue menaiki tangga kayu menuju tempat dimulainya flying fox. Kalau dari anak tangga yang gue naiki, rasanya tempat ini cukup tinggi. Mungkin sekitar 15 meter di atas permukaan tanah.

Si operator flying fox mulai menjelaskan apa yang harus gue lakukan. Gue akan dikaitkan pada seutas tali, kemudian meluncur dengan posisi bergantung pada tali tersebut menuju tempat yang lebih rendah. Begitu tali mulai dikaitkan, jantung gue pun langsung berddegup kencang.

“Siap ya, 1, 2, 3,” Terdengar teriakan operator memberi aba-aba. Gue pun langsung meluncur sesuai instruksi.

“Aaaaaaaa!!!” gue sontak berteriak begitu mulai meluncur.

Entah berapa jauh jaraknya, yang pasti hanya dalam hitungan detik gue sudah tiba di tempat pendaratan. Para operator yang telah bersiap segera menangkap gue dan membantu melepaskan diri gue dari semua ikatan yang menempel di badan gue. Rasanya benar-benar menegangkan sekaligus menyenangkan. Sensasinya jauh lebih hebat dibanding yang pernah gue coba ketika gue masih bisa melihat.

Puas dengan flying fox, kami langsung menuju perahu untuk menjalani kegiatan utama, yaitu rafting.

Setelah menempuh perjalanan dengan berjalan kaki, akhirnya kami tiba di tepi sungai yang akan digunakan untuk berarung jeram. Lumayan deg-degan juga nih perasaan gue. Walaupun gue sudah pernah mencobanya, tapi kali ini kan kondisinya berbeda.

Dengan mengenakan helm dan pelampung, gue pun langsung menaiki perahu karet yang telah menanti. Satu perahu diisi oleh 5 orang. Gue berada satu perahu dengan mas Adi dan 2 orang relawan pendamping ditambah instruktur yang akan memandu kami.

“Ok, mari kita mulai petualangan ini.” Gue berkata dalam hati.

Gue mulai mendayung mengikuti arahan sang instruktur. Kalau instruktur bilang kiri, berarti orang yang duduk di sisi kiri perahu yang mengayuhkan dayungnya, sedangkan orang yang duduk di sisi kanan diam saja. Begitupun sebaliknya. Ah, ini sih gampang. Gue baru sadar. Pantas saja kalau kami yang tunanetra juga bisa mengikuti kegiatan rafting.

“Kiri, kiri, kanan, kanan,” terdengar jelas suara instruktur yang diselingi oleh teriakan kaget gue dan peserta lain setiap kali perahu bergoncang.

“Siap-siap ya, sebentar lagi kita akan memasuki jeram pertama. Kalau saya teriak ‘BUM’ kalian langsung berjongkok ke dasar perahu ya agar tidak terpental,’ ujar instruktur semakin menambah ketegangan.

Tidak lama, terdengar teriakan ‘BUM’ dari instruktur. Kami pun langsung berjongkok ke dasar perahu.

“Aaaaaaaaaa!!!” Kami saling berteriak ketika perahu bergoncang hebat begitu memasuki jeram.

“Mau diterbalikin ga nih perahunya?” Tanya jahil sang instruktur.

“Mau, mau, mau.” Sahut gue dan mas Adi kompak.

“Jangaaaaaaaaaaannn!” Teriak para pendamping yang kebetulan perempuan semua.

Walaupun jumlahnya sama-sama dua, tapi sepertinya suara perempuan lebih unggul. Hehehe. Terbukti tuh si instruktur tidak jadi membalikan perahunya. Padahal kan gue pengen ngerasain. Buat yang belum tahu, hal seperti itu kerap dilakukan oleh operator arung jeram untuk menambah ketegangan. Tentu saja itu bukan hal yang membahayakan, karena gue sudah pernah mencobanya di pengalaman rafting gue sebelumnya.

Setelah melewati beberapa jeram dan goncangan, ditambah beberapa kali tersangkut di bebatuan, akhirnya kami tiba di garis finish. Kami pun langsung menuju mobil angkutan yang akan membawa kami kembali ke tempat awal berkumpul sebelum memulai rafting.

Setibanya disana kami langsung membersihkan diri dan langsung bersiap menyantap makan siang. Setelah kenyang, kami menyempatkan berkeliling sambil berfoto-foto. Beberapa lokasi katanya memiliki pemandangan yang menarik. Setelah puas berkeliling dan berfoto ria, akhirnya kami pun kembali ke mobil dan langsung meluncur kembali ke Jakarta.

Hari itu benar-benar luar biasa buat gue. Selain pengalaman yang menyenangkan, gue juga mendapat pelajaran bahwa gue masih bisa melakukan banyak hal walaupun sebagai tunanetra. Jadi buat kalian yang memiliki keluarga ataupun kerabat penyandang disabilitas, yakinkan kepada mereka bahwa kita masih bisa menikmati hidup ini. Mengutip kalimat dari salah satu sahabat tunanetra gue, “Walaupun gue kehilangan penglihatan gue, tapi gue tidak kehilangan dunia gue.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s