Ketika Tunanetra Nobar Di Istana Negara

Tunanetra peserta nobar berfoto di halaman Istana Negara
Sumber gambar: koleksi pribadi

“Ega, mau ikut nobar ga?” Suara yang sangat akrab di telinga gue terdengar di ujung telepon. Itu Santi, salah satu sahabat tunanetra gue. Agak heran gue menerima telepon Santi kali itu. Gue dan Santi memang cukup sering berkomunikasi via telepon. Tapi kabar yang dibawa Santi kali itu terdengar tidak biasa buat gue.

“Nobar? Nonton bareng maksud lo?” Gue balik bertanya.

“Iya, mau ada nonton bareng Presiden di Istana Negara nih,” jawabnya, antusias. “Ikutan, yuk,”

“Hah, di Istana? Bareng Presiden?” Gue pun semakin dibuat bingung dengan ajakan itu. Ya iyalah, gimana gue tidak bingung? Pertama, gue baru tahu kalau ternyata tunanetra juga suka nobar. Kedua, nontonnya bareng Presiden pula. Ketiga, tempatnya itu loh, di Istana Negara. Setahu gue sih Istana Negara adalah tempat dengan keamanan dan protokoler yang sangat ketat. Tempat yang biasa digunakan untuk kegiatan formal kenegaraan itu kali ini justru digunakan untuk nonton, bersama tunanetra pula? Daripada penasaran, akhirnya gue pun langsung mengiyakan ajakan dari sahabat gue itu.

Hari yang dinanti pun akhirnya tiba. Sekitar 30 peserta nobar tunanetra berkumpul di Yayasan Mitra Netra di bilangan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Ternyata, kegiatan nobar tunanetra bersama presiden tersebut dikoordinatori oleh yayasan tunanetra tempat gue belajar selama ini. Yayasan Mitra Netra mendapat undangan untuk mengikuti nobar bersama Presiden dan artis-artis nasional di Istana dalam rangka memperingati Hari Film Nasional 2015. Setelah semua tiba, kami pun menaiki bus dan langsung menuju Istana Negara. Di dalam bus, panitia membagikan undangan resmi dari pihak Istana kepada para peserta nobar. Undangan inilah yang nantinya akan digunakan sebagai tiket masuk agar gue dan teman-teman bisa memasuki Istana.

Setibanya di Istana, beberapa panitia segera turun dari bus untuk mengurus perizinan. Hmm, walaupun ketat, tapi ternyata protokoler Istana tidak seribet yang gue bayangkan. Mungkin karena kami memiliki undangan resmi. Kami menunggu untuk beberapa waktu di gedung Sekertariat Negara, hingga dipersilakan menyantap hidangan prasmanan ketika tiba waktu makan malam. Dengan dibantu mengambil makanan oleh panitia dan para relawan, gue dan teman-teman tunanetra pun menikmati hidangan tersebut.

Perut sudah kenyang. Nah, sekarang waktunya kami semua beranjak menuju lokasi diselenggarakannya nobar. Ternyata jaraknya lumayan jauh dari gedung Sekertariat Negara, butuh beberapa menit berjalan kaki untuk bisa sampai di lokasi.

Memasuki ruangan, Mbak Cici, salah satu panitia acara yang sejak tadi mendampingi gue pun mengantarkan gue ke tempat duduk. Sebelum meninggalkan gue, mbak Cici menjelaskan bahwa relawan pembisik yang bertugas mendampingi gue sudah duduk di belakang bangku gue.

Ya, relawan pembisik. Mungkin ini istilah yang terdengar awam di telinga kebanyakan orang. Jadi, inilah sebenarnya rahasia besar yang membuat seorang tunanetra dapat menikmati jalinan cerita dalam sebuah film secara utuh sebagaimana orang yang dapat melihat. Gue baru tahu, ternyata setiap acara nobar tunanetra, para tunanetra akan didampingi oleh relawan pembisik yang bertugas untuk mendeskripsikan adegan yang terjadi dalam film, terutama untuk adegan-adegan tanpa dialog (silent scene).

“Halo, saya Rio,” sahut seseorang di belakang gue sambil menepukan tangannya ke pundak sebelah kanan gue. Rupanya itu adalah suara si relawan pembisik.

“Halo juga, saya Ega,” gue pun segera membalikan badan sambil menjulurkan tangan. Rio pun segera menjabat tangan gue. Setelah berbincang sejenak, gue tahu, bahwa Rio ini adalah seorang script writer yang pernah menulis naskah dari beberapa film nasional.

Film yang akan diputar malam itu berjudul “Cahaya dari Timur: Beta Maluku”. Film yang dibintangi oleh Chico Jerrico itu bercerita tentang mantan pemain sepakbola timnas U-15 Indonesia bernama Sani Tawainela. Dalam film itu diceritakan bagaimana Sani melatih anak-anak di kampung halamannya hingga dapat memenangi kejuaraan nasional. Film yang berdasarkan kisah nyata itu juga sempat memborong beberapa penghargaan di tahun 2014.

Acara pun dimulai. Reza Rahardian–salah satu artis ternama tanah air– malam itu bertindak sebagai pembawa acara. Setelah beberapa kata pembuka, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Anies Baswedan, serta Presiden Joko Widodo. Dalam sambutannya, Presiden Jokowi sempat berpesan agar para insan film menghidupkan kembali bioskop misbar (gerimis bubar) sehingga film dapat dinikmati oleh semua kalangan. Selain itu, Presiden Jokowi juga menyerukan gerakan nasional “Mari Nonton Film Indonesia” yang diharapkan bisa menjadi tonggak kebangkitan kembali film nasional setelah sekian lama terlelap.

Tanpa menghabiskan banyak waktu untuk sambutan, nonton bareng pun akhirnya dimulai. Selama film diputar, Rio menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Ia menceritakan adegan-adegan yang tampil pada layar, tapi hanya secara garis besar dan tidak terlalu detail. Selanjutnya gue yang akan berimajinasi sendiri sesuai keinginan gue. Ya, seperti inilah konsep dari bioskop bisik.

Setelah lebih dari 2 jam, akhirnya film pun selesai. Salah satu film paling lama yang pernah gue tonton. Selain ceritanya bagus, kebetulan gue juga suka sepakbola. Kalau tidak, mungkin gue udah terlelap menyaksikan film selama itu. Hehehehe. Begitu keadaan sudah tidak terlalu padat, kami pun segera berkumpul dan bersama-sama meninggalkan ruangan. Tidak disangka, di tengah perjalanan menuju bus ternyata kami bertemu dengan Chico Jerrico yang merupakan pemeran utama dari film yang baru saja kami tonton.

“Halo, saya Chico. Pemeran Sani dalam film barusan,” ujarnya memperkenalkan diri sambil menyalami kami satu-persatu. Ini dia nih momen yang gue tunggu-tunggu. Memang dari awal gue berharap bisa bertemu dengan sang pemeran utama.

“Halo, gue Ega, Percik,” sengaja gue memperkenalkan diri sambil menyebutkan nama sekolah gue semasa SMP. Sesaat Chico pun terdiam.

“Ya ampun, apa kabar lo bro?” Ternyata Chico masih mengenali gue. Gue kira dia udah lupa sama gue. Secara sudah bertahun-tahun kami tidak bertemu. Gue kenal Chico karena kami sempat bersekolah di SMP dan SMA yang sama. Senang rasanya bisa bertemu lagi dengan teman lama. Bertahun-tahun tidak bertemu, memang banyak hal yang berubah. Siapa sangka, Chico yang dulu sering gue ajak bolos ini sekarang sudah menjadi salah satu artis terkenal di Indonesia.

“Seperti yang lo lihat bro. Gue sekarang tunanetra nih,” Gue menjelaskan kondisi gue secara singkat. Tidak mungkin gue cerita panjang lebar di kesempatan itu. Soalnya di belakang gue masih ada yang ngantri buat salaman sama dia.

“Yang sabar ya bro. Tetap semangat! Nanti kapan-kapan kita atur waktu untuk ngumpul lagi bareng anak-anak yang lain,” ujarnya menabahkan sambil merangkul gue sebagai bentuk dukungannya. Setelah sedikit perbincangan tentang kabar teman-teman kami yang lain, Gue dan Chico pun saling bertukar kontak, lalu gue pamit untuk segera beranjak bersama rombongan menuju bus.

Sekali lagi gue mendapatkan pengalaman baru. Gue akui, banyak hal menarik yang gue alami sejak gue mengenal dunia tunanetra. Bukan hanya soal uniknya nobar ala tunanetra yang didampingi relawan pembisik. Ketika gue masih melihat, sama sekali tidak terbesit di benak gue untuk memasuki tempat seformal Istana Negara hanya untuk nonton film, bahkan berada satu ruangan pula bersama presiden serta beberapa orang menteri dan artis nasional.

Terima kasih untuk Yayasan Mitra Netra yang sudah mengajak gue untuk ikut dalam acara ini, juga kepada Presiden Jokowi yang sudah mengizinkan para tunanetra untuk memasuki Istana Negara. Ini membuktikan bahwa tidak perlu ada diskriminasi, karena setiap orang—termasuk penyandang disabilitas–memiliki hak yang sama dalam menikmati fasilitas public.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s